Binjai – Setelah genap 100 hari menjabat, kinerja Wali Kota Binjai Amir Hamzah dan Wakil Wali Kota Hasanul Jihadi menuai kritik tajam dari Fraksi Gerindra DPRD Kota Binjai. Menurut mereka, sejauh ini belum ada realisasi nyata dari janji-janji kampanye yang disampaikan kepada masyarakat.
Anggota DPRD Kota Binjai dari Fraksi Gerindra, Ronggur, menilai masa 100 hari kerja adalah indikator awal yang mencerminkan keseriusan dalam membangun daerah. Namun, hingga kini, pihaknya belum melihat kebijakan konkret dari pasangan Amir-Hasanul atau yang kerap disebut Amir-Jiji.
“Janji-janji seperti santunan kematian Rp1 juta, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri kreatif, pelatihan soft skill, penyaluran PKH yang tepat sasaran, hingga perbaikan sektor pendidikan dan kesehatan belum terlihat dilaksanakan,” ujar Ronggur dalam keterangannya, Kamis (22/5/2025).
Lebih lanjut, Ronggur mengungkapkan kekhawatirannya jika dalam 100 hari awal saja belum terlihat progres berarti, maka akan sulit berharap banyak pada masa jabatan ke depannya.
Baca Juga : Pangkalan Gas di Binjai Dibobol Maling, 100 Tabung Gas Raib — Satu Pelaku Berhasil Ditangkap Polisi
“Jika sejak awal sudah terlihat lamban, ini bisa menjadi pertanda buruk untuk tahun-tahun berikutnya,” tambahnya.
Fraksi Gerindra sendiri, kata Ronggur, berkomitmen untuk terus memberikan masukan dan menjalankan fungsi pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Mereka berharap ada sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah agar arah pembangunan lebih terkoordinasi.
“Presiden menginginkan birokrasi bersih dan ekonomi rakyat yang kuat. Gubernur Sumatera Utara langsung turun ke desa-desa untuk pemetaan pembangunan. Kami berharap Wali Kota Binjai juga segera menunjukkan langkah konkret untuk masyarakat,” tegas Ronggur.
Baca Juga : Oknum Pejabat Pemko Binjai Diduga Gelapkan Dana Rp150 Juta, Modus Urus PBG di Deli Serdang
Ronggur juga menekankan pentingnya fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Mulai dari jaminan pelayanan kesehatan, penyediaan tenaga pengajar yang cukup, pemberdayaan generasi muda, hingga pendataan bantuan sosial yang lebih akurat.
“Jangan sampai rakyat ragu berobat ke RSUD, anak muda harus punya harapan ekonomi yang baik, dan jangan sampai warga malah ke luar negeri hanya untuk mencari nafkah. Semua ini bisa dimulai dari program-program yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat,” tutupnya.








Discussion about this post